Sabtu, 04 April 2009

mengapa ada benci di saat kita berpisah

DUlu..kau yAn9 pernah bilang,

“ku tak mau ada benci”

“ku tak mau ada dendam”

“ku tak mw ada penyesalan”

dan…..

“ku tak mau ada air mata”

saat kita berpisah serta,

mengakhiri hubungan yang telah kita rajut

di batas asa dan penantian….

tapi mengapa kenyataan yang terjadi

berbeda dengan apa yang pernah kau ucapakan…

kini…..

yang kurasakan,,,

kau benci padaku

kau dendam padaku

kau menyesal mencintaiku

dan…

ada air mata yang menetes

saat kita berpisah…

apa kau mengira aku juga tak terluka

karena penghianatan cintamu… apa yang kurasakan mungkin melebihi

apa kau kau juga rasakan…

seharusnya,,,,

aku yg membencimu…

aku yang dendam padamu,

aku yg menyesal mencintaimu

dan…

aku yg menangis karenamu…

tapi aku tak mau munafik

dan menanamkan rasa itu,,

karena aku “MASIH MENYAYANGIMU”

untuk saat ini,,

kutak tau dirimu ada dimana…

jangankan melihatmu,

seuntai salampun tak pernah kuterima darimu…

kau hilang dan tak kan pernah kembali padaku…

ku ingin tegar jalani hari,,

wlo tanpa dirimu…

apa ini yang dinamakan silaturrahmi tetap terjalin saat kita berpisah……

“mengapa ada benci saat kita tak mungkin bersama”

Satu ketika pada satu senja hari saya duduk didepan rumah, salah satu pekerangan rumah seseorang. Saya dengar suara dari dalam rumah seseorang berbicara, karena kebetulan pintu rumahnya tidak tertutup, daun pintunya terbuka lebar-lebar.’Sebagai seorang wanita anak dara, kamu harus bernilai ibarat intan berberlian. Intan berlian selalu nilainya mahal dari apapun’. Begitu kiat kata dari suara seorang lelakiyang sempat saya tangkap dan perhatikan dari rangkaian kalimatnya.

Orang yang bicara saat itu, mungkin menasihati kepada salah seorang wanita muda, tetapi saya kira yang dinasihati bukan anak kandung dari yang memberikan wejangan.Semua intan dan berlian adalah batu, berlian itu juga batu, keras seperti batu, malahan lebih keras lagi dari batu biasa. Tetapi kamu tahu, tidak semua batu intan berlian.’ Begitu lanjutan dari rangkaian kalimatnya.’Apa yang membedakan batu dengan intan berlian?’ tanya dari sipewejang selanjutnya. Jawab suara wanita yang terdengar sangatsimpel dan sederhana jalan pikirannya.’

Bicara tentang ibarat dan nilai, bukan begitu mudah. Itu namanya jawaban membalik tangan. Artinya dibalik telapak tangan adalah punggun telapak tangan. Tidak. Tidak begitu pengertian yang saya maksud. Tidak begitu mudah jawabannya’. Tidak terdengar suara sejenak.

Maksud saya kalau kau wanita yang mau bernialai dan mau bernilai selaku intan berlian, kamu harus menempatkan dirimu ditempat yang terbatas,yang terhormat, tidak disembarang tempat dapat ditemui orang. Karena lihat saja contohnya kalau kau mencari batu, dimana saja mudah kau temukan, mudah didapat dimana-mana, gampang kamu pungut semaumu.Tetapi mencari intan? Wa,wa, wa. Tunggu dulu…. Intan berlian?……. kegunung, capek mendaki sampai puncak tidak ditemukan. Kelaut?… u,u,u,…. yang ada hanya air dan gelombang.

Ditoko khusus? harus menyediakan setumpuk uang, masuk rumah orang, dirumahpun tidak ada orang mau meletakkan intan berliannya disembarang tempat. Jadi, kalau mau dihargai dan dinilai tinggi dari orang terhormat,jangan sembarangan tempat kau kunjungi. Jangan pamer dirimu sehingga bernilaimu murah. Tetapi jagalah dirimu, peliharalah kehormatanmu, berwibawahlah dalam penampilanmu. Itulah…. begitulah baru kau jadi wanita sejati yang bernilai intan.

ibu

Perih dan pilu ketika kau mengandungku
Meregang, mengerang ketika kau melahirkanku
Tapi ada seyum tulus di wajahmu
Seyum bahagia atas lahirnya anak tercinta
Merah merona bagai mawar di taman syurga

Belai kasihmu
Lembut, membuat reda tangisku
Nina bobomu
Merdu, membuat pulas lelapku
Seyum tulusmu bersinar
laksana embun terpaan mentari
Canda tawamu
Ah..itu, geli aku mengingatnya

Ibu…
Tak ada sesal di hatimu
Ketika kau belikan aku mainan dari uang dapurmu
Tak ada kesal di hatimu
Ketika kau bangun karena tangisku di tengah malammu
Karena aku adalah buah hatimu
aku adalah cintamu
aku adalah harapanmu

Ibu…
Kaulah yang melindungiku dari kemarahan ayah yang menggebu
Kaulah yang menahan malu ketika meminjam uang untuk biaya hidupku
Tapi apa balasanku ibu…
Kausuruhpun aku tak mau
Permintaanmu kuanggap angin lalu
Berjuta alasan aku ungkapkan
Bahkan bentakan pernah pula aku lakukan

Ibu…
Kasih sayang tulusmu
Kubalas dengan cinta pada orang yang kuanggap ‘lucu’
Kala kau menangis tersedu
Kubalas dengan kepergianku, meninggalkanmu

Lalu..
Pantaskah aku disebut anak sholeh, ibu..
Pantaskah aku disebut anak berbakti, ibu..
Pantaskah….
Ya Allah… apakah hati ini sudah membatu
Apakah diri ini sudah tak lagi malu
Sampai-sampai kuhinakan ibu kandungku

Ya Allah, Astagfirullah…
Bukankah syurga di bawah telapak kaki ibu
Bukankah dia yang pertama kali harus kucinta setelah Engkau dan rasulMu
Maafkanlah diriku ibu
Maafkanlah anakmu yang durhaka ini
Ingin rasanya kucium tanganmu ibu
Ingin rasanya kupeluk dirimu
Dan kubisikkan di telingamu
“Aku sayang padamu ibu….”

Ya Allah…
Izinkanlah aku berbakti pada ibuku
Walau cuma sekali dalam hidup

ibu

Perih dan pilu ketika kau mengandungku
Meregang, mengerang ketika kau melahirkanku
Tapi ada seyum tulus di wajahmu
Seyum bahagia atas lahirnya anak tercinta
Merah merona bagai mawar di taman syurga

Belai kasihmu
Lembut, membuat reda tangisku
Nina bobomu
Merdu, membuat pulas lelapku
Seyum tulusmu bersinar
laksana embun terpaan mentari
Canda tawamu
Ah..itu, geli aku mengingatnya

Ibu…
Tak ada sesal di hatimu
Ketika kau belikan aku mainan dari uang dapurmu
Tak ada kesal di hatimu
Ketika kau bangun karena tangisku di tengah malammu
Karena aku adalah buah hatimu
aku adalah cintamu
aku adalah harapanmu

Ibu…
Kaulah yang melindungiku dari kemarahan ayah yang menggebu
Kaulah yang menahan malu ketika meminjam uang untuk biaya hidupku
Tapi apa balasanku ibu…
Kausuruhpun aku tak mau
Permintaanmu kuanggap angin lalu
Berjuta alasan aku ungkapkan
Bahkan bentakan pernah pula aku lakukan

Ibu…
Kasih sayang tulusmu
Kubalas dengan cinta pada orang yang kuanggap ‘lucu’
Kala kau menangis tersedu
Kubalas dengan kepergianku, meninggalkanmu

Lalu..
Pantaskah aku disebut anak sholeh, ibu..
Pantaskah aku disebut anak berbakti, ibu..
Pantaskah….
Ya Allah… apakah hati ini sudah membatu
Apakah diri ini sudah tak lagi malu
Sampai-sampai kuhinakan ibu kandungku

Ya Allah, Astagfirullah…
Bukankah syurga di bawah telapak kaki ibu
Bukankah dia yang pertama kali harus kucinta setelah Engkau dan rasulMu
Maafkanlah diriku ibu
Maafkanlah anakmu yang durhaka ini
Ingin rasanya kucium tanganmu ibu
Ingin rasanya kupeluk dirimu
Dan kubisikkan di telingamu
“Aku sayang padamu ibu….”

Ya Allah…
Izinkanlah aku berbakti pada ibuku
Walau cuma sekali dalam hidup

Minggu, 15 Maret 2009

masa lalu

Terkadang, inginku menyendiri
Terlalu ramai disini
Terlalu banyak temanku disini
Biar aku kenalkan
Mereka adalah Masa laluku
Inginku lepas darinya
Berhenti sejenak
Berteman dengannya
Karena begitu pedih
Jika bercanda dengannya
Ingin aku mencari teman baru
Yang bisa menyembuhkanku
Dari temanku yang dulu
Yang menemaniku
Dengan penuh Cinta
Duhai teman, dimana engkau ?